| Launching dan Bedah Buku Sayembara TEMBAWANG serta persiapan Prakongres Internasional Literasi Dayak dan Dayak Book Fair I di Sekadau, Kalbar, 31 Oktober 2015. |
Di bumi Lawang Kuwari, Sekadau yang dikelilingi sungai dan tembawang, pada 31 Oktober 2025, berlangsung peristiwa bersejarah dalam perjalanan kesusastraan Dayak.
Di Aula magna Institut Teknologi Keling Kumang (ITKK), Kalimantan Barat, digelar Pra-Kongres Penulis Dayak 2025, sebuah pertemuan yang menandai kebangkitan semangat menulis di tanah Borneo.
Acara ini beriringan dengan Launching dan Bedah Buku Sayembara TEMBAWANG serta persiapan Prakongres Internasional Literasi Dayak dan Dayak Book Fair I.
Di tengah gaung gong yang dipukul sebanyak 7 kali oleh Jaya Ramba menandai dimulainya acara dan gemuruh tepuk tangan, para penulis, budayawan, dan tokoh adat dari dua negeri, Indonesia dan Malaysia, berkumpul dalam suasana penuh makna.
Pra-Kongres ini menjadi wadah untuk menegaskan kembali identitas dan peran penulis Dayak dalam dunia modern.
“Melalui tulisan, orang
Dayak menegaskan eksistensinya di tengah dunia yang terus berubah. Buku menjadi
rumah bagi pikiran dan ingatan kolektif kita,” ujar Masri Sareb Putra, sastrawan
angkatan 2.000 dalam sastra Indonesia. Kehadiran Masri dalam Pengantar acara di
depan podium memberikan konteks pertemuan dengan 3 agenda utama yang dituntaskan pada sehari itu saja.
Kehadiran Masri diperkukuh sastrawan lain, seperti Alexander
Mering, penggerak literasi Dayak yang dikenal juga sebagai webmaster, disambut tepuk tangan hangat.
ITKK menjadi Titik Temu Ilmu dan Roh Leluhur
ITKK Sekadau menjadi simbol penting dalam perjalanan
kebudayaan Dayak. Institut ini bukan hanya lembaga pendidikan tinggi, tetapi
juga mercusuar pengetahuan yang berakar pada nilai dan mitologi Dayak. Nama
“Keling dan Kumang”, dua tokoh legenda dalam tradisi Iban, menjadi semangat
yang menjiwai seluruh kegiatan di kampus ini.
Seperti diketahui bahwa Institut Teknologi Keling Kumang (ITKK) adalah sebuah perguruan tinggi swasta yang berlokasi di Kabupaten Sekadau, Provinsi Kalimantan Barat, Indonesia. ITKK diresmikan oleh Bupati Sekadau, Rupinus, melalui penandatanganan prasasti pada 9 Januari 2021.
Perguruan tinggi ini memiliki tiga program studi, yakni:
- Agroteknologi,
- Kewirausahaan,
dan
- Rekayasa
Komputer.
Sebagai bagian dari gerakan besar Keling Kumang Group, ITKK berdiri di atas semangat kemandirian dan pemberdayaan masyarakat Dayak melalui pendidikan berbasis komunitas. Pada Agustus 2024, ITKK menerima penghargaan dari Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) sebagai perguruan tinggi pertama di dunia yang berhasil menerbitkan 69 buku sekaligus dalam satu momentum, bertepatan dengan peresmian kampus barunya di Sekadau. Pencapaian ini menjadi tonggak bersejarah bagi pengembangan literasi dan pendidikan tinggi berbasis lokal di Borneo.
“Gerakan literasi adalah bagian dari pembangunan manusia
Dayak seutuhnya, sadar akan jati diri, budaya, dan potensi ekonomi berbasis
nilai-nilai lokal,” ungkap Valentinus Narung, CEO Credit Union Keling Kumang.
Acara ini di kampus ITKK pada 31 Oktober 2025 dihadiri sekitar 150 peserta dari berbagai
wilayah: Sanggau, Sekadau, Sintang, Sosok, Pontianak, hingga Sarawak. Dari
Malaysia hadir Jaya Ramba, Dr. Patricia Ganing, Clemens Joy, dan Poul Nanggang. Dari
Indonesia hadir antara lain Masri Sareb Putra, Alexander Mering, Agustina A.S.,
Susana Herpena (Wakil Bupati Sanggau), Stefanus Masiun (Rektor ITKK), Dr.
Antonius (Rektor Universitas Kapuas Sintang), serta sederet tokoh literasi dan
akademisi lainnya.
Suasana acara dipenuhi semangat belarasa lintas generasi dan
batas negara. Sekadau seakan menjadi titik temu antara ilmu modern dan
kebijaksanaan adat, antara pena dan roh leluhur yang tak pernah padam.
“Tembawang” Ujud Suara dari Tanah dan Hati
Puncak acara ditandai dengan peluncuran Antologi “Tembawang”,
hasil Lomba Cerpen Tembawang 2025 yang menghimpun karya 27 penulis dari Sarawak
dan Kalimantan Barat. Antologi ini memuat lebih dari 30 cerpen bertema hutan
warisan, adat, ritual, dan kehidupan masyarakat Dayak.
“Tembawang” bukan sekadar kumpulan cerita. Ia adalah peta
jiwa yang memotret hubungan manusia dengan alam dan leluhur. Peluncuran buku
dilakukan dalam suasana sakral, diiringi bunyi gong dan seruling bambu yang
menghadirkan kenangan akan masa ketika kata-kata pertama kali lahir dari ritual
dan doa.
Bagi para penulis muda Dayak, antologi ini menjadi tanda bahwa pena telah menggantikan parang dan lembing sebagai senjata zaman. Pena kini menyalakan obor baru yang membangunkan kesadaran dan kebanggaan terhadap akar budaya sendiri.
Pra-Kongres Penulis Dayak 2025 menjadi jembatan menuju Kongres
Besar Penulis Dayak 2026, yang direncanakan lebih luas dan berimpak. Ketua
Lembaga Sastera Dayak, Jaya Ramba, dalam sambutannya menegaskan pentingnya
kolaborasi lintas wilayah.
“Sudah tiba masanya penulis Dayak sepakat membina kolaborasi
dan jaringan. Kita mesti berdiri bersama, Sarawak dan Kalbar, agar dunia tahu
bahwa penulis Dayak bukan sekadar waris adat, tetapi juga waris intelektual
Pulau Borneo,” ujarnya.
Kongres mendatang akan menghadirkan lomba penulisan puisi,
cerpen, dan novel, dialog karya, serta pameran budaya yang mempertemukan
penulis, akademisi, dan pemimpin daerah.
Lembaga Sastera Dayak juga menggariskan lima langkah
strategis: mendirikan pusat penulisan di sekolah dan kampus; menerbitkan karya
secara profesional; membentuk inkubator dan mentor penulis; mengembangkan
ekonomi kreatif berbasis budaya; serta memperkuat kerja sama budaya
Sarawak–Kalbar.
Semua langkah itu berpijak pada keyakinan bahwa literasi
adalah pintu peradaban. Seperti tembawang yang tumbuh di tengah hutan, akar
kesusastraan Dayak akan terus mencengkeram tanah leluhur sambil menjulang
menembus awan modernitas.
“Jika dahulu roh Keling dan Kumang hidup dalam mitos, kini
ia hidup dalam pena kita,” tutur Jaya Ramba menutup acara.
Pra-Kongres Penulis Dayak 2025 pun berakhir dengan keyakinan bersama: benih
yang telah disemai akan tumbuh menjadi pohon besar yang menaungi generasi baru
penulis Dayak di seluruh Borneo.
Posting Komentar