Dayak Research Center: Pusat Penelitian dan Pelestarian Warisan Suku Dayak di Kalimantan

Dayak Research Center: Pusat Penelitian dan Pelestarian Warisan Suku Dayak di Kalimantan
Dayak Research Center (DRC): Dayak riset, menulis, dan publikasi "dari dalam".

Oleh Masri Sareb Putra


Dayak Research Center (DRC) pada 4 Januari 2025 berdiri sebagai lembaga independen yang berdedikasi untuk mengeksplorasi, mendokumentasikan, dan melestarikan warisan budaya, sejarah, serta nilai-nilai tradisional suku Dayak di Kalimantan. Didirikan dengan visi jangka panjang untuk membangun kesadaran masyarakat global tentang kekayaan budaya Dayak, DRC beroperasi melalui pendekatan multidisiplin yang melibatkan penelitian ilmiah, pendidikan, dan kolaborasi internasional. 

Baca Research as the Pillar of Civilization and Identity Revival for the Dayak People

Struktur organisasi DRC mencakup penasihat seperti Dr. Drs. Stefanus Masiun, S.H., M.E., yang juga menjabat sebagai rektor Institut Teknologi Keling Kumang, serta ketua Masri Sareb Putra, M.A., wakil ketua Albertus Imas, M.A., dan kepala divisi khusus seperti Dr. Patricia anak Ganing untuk studi Iban, Dr. Louis Ringah Kanyan untuk kerjasama internasional, dan Alexander Mering untuk media dan literasi. Misi DRC tidak hanya terbatas pada dokumentasi, tetapi juga mencakup pengembangan ekonomi kreatif berbasis budaya Dayak, seperti melalui seminar, workshop, publikasi jurnal, dan rencana pendirian pusat dokumentasi, museum, serta pusat budaya.



Situs web www.dayakresearchcenter.com menjadi platform utama DRC untuk menyebarkan pengetahuan, dengan berbagai artikel yang mencakup tema sejarah migrasi, identitas budaya, kebijaksanaan lingkungan, penelitian inovatif, serta tantangan kontemporer yang dihadapi suku Dayak. Artikel pilar ini, dengan panjang sekitar 3.000 kata, merangkum seluruh konten situs tersebut, menyatukan wawasan dari penelitian terkini untuk memberikan gambaran holistik. Mulai dari migrasi etnis Iban hingga dampak perkebunan sawit, tulisan ini menyoroti bagaimana warisan Dayak tetap relevan di tengah modernisasi, sambil menekankan urgensi pelestarian. Dengan pendekatan yang berbasis pada data dan narasi lokal, DRC tidak hanya menjadi pusat akademik, tetapi juga advokasi bagi hak-hak masyarakat adat di Indonesia.


Struktur dan Misi Dayak Research Center


Dayak Research Center (DRC) didirikan untuk menjawab kebutuhan pelestarian warisan Dayak di tengah ancaman globalisasi dan degradasi lingkungan. Dari halaman "About" di situs, terlihat bahwa DRC memiliki struktur organisasi yang kokoh, dimulai dari penasihat seperti Dr. Stefanus Masiun yang membawa keahlian di bidang ekonomi lingkungan, hingga tim inti yang fokus pada studi spesifik seperti Ibanologi dan kerjasama internasional. Supervisor Adil Bertus AS, S.E., M.M., memastikan pengawasan operasional, sementara ketua Masri Sareb Putra memimpin arah strategis. Tim ini tidak hanya terdiri dari akademisi, tetapi juga praktisi yang terlibat langsung dengan komunitas Dayak, memastikan penelitian tetap autentik dan berbasis masyarakat.


Misi jangka pendek DRC meliputi kegiatan seperti seminar dan workshop untuk meningkatkan kesadaran publik, serta peluncuran media sosial untuk jangkauan lebih luas. Di jangka menengah, fokus pada pengembangan penelitian mendalam, publikasi jurnal akademik, dan program pelatihan. Jangka panjangnya ambisius: mendirikan pusat dokumentasi untuk arsip sejarah Dayak, museum interaktif yang memamerkan artefak budaya, dan pusat budaya yang mendukung ekonomi kreatif, seperti kerajinan tangan atau ekowisata berbasis adat. Halaman "Our Team" di situs menegaskan komitmen ini, dengan daftar personel yang mencerminkan keragaman keahlian, dari hukum hingga antropologi.


Baca Dayak Research Center Launched at ITKK, Aims for Global-Standard Studies

Situs DRC sendiri terstruktur sederhana namun informatif, dengan homepage yang menampilkan publikasi terbaru seperti penelitian Dr. Masiun tentang nilai ekonomi tanah adat Taman Sunsong, dampak perkebunan sawit, dinamika Dayak Krio, agama Kaharingan, dan pertanian ladang berpindah. Kategori utama mencakup "Research" dengan subtopik seperti budaya dan tradisi, bahasa dan sastra, sejarah dan arkeologi, serta lingkungan dan kebijaksanaan adat. Recent posts menyoroti isu terkini, sementara menu navigasi memudahkan akses ke about, team, dan publikasi. Secara keseluruhan, DRC bukan hanya lembaga penelitian, tapi gerakan untuk memberdayakan suku Dayak melalui pengetahuan, memastikan warisan mereka tidak hilang di era digital.


Sejarah dan Migrasi Suku Dayak


Sejarah suku Dayak kaya dengan cerita migrasi yang membentuk identitas mereka sebagai penduduk asli Borneo. Salah satu artikel utama di situs DRC membahas migrasi etnis Iban melintasi tiga musim dari Tampun Juah, didorong oleh faktor supernatural, lingkungan, dan historis seperti invasi Majapahit pada abad ke-14–15 yang disimbolkan sebagai "musuh gelap" atau roh jahat. Migrasi pertama mengikuti Sungai Kapuas ke muara Ketungau dan Batang Lupar, membentuk subkelompok seperti Kantuk, Undup, Gaat, Saribas, Sebuyau, Sebaruk, Skrang, dan Balau. Yang kedua menetap di sepanjang Ketungau, termasuk Tabun, sementara yang ketiga, Ketungau Tesaek, tersesat di muara Sekadau akibat banjir yang menggeser penanda navigasi, akhirnya mendiami tepian Sekadau setelah perjalanan mundur ke hulu Kapuas.


Baca How the Dayak Research Center (DRC) Prioritizes and Relies on Data as the Source and Basis for Analysis in Its Research Processes and Methods

Penelitian ini mengintegrasikan literatur etnologi, narasi lisan, puisi Iban, dan wawancara tetua, menunjukkan migrasi sebagai proses intuitif tanpa tujuan tetap, melainkan pencarian "Idaman ati" atau tanah idaman hati yang menjanjikan kemakmuran. Pengakuan 24 subkelompok Iban pada Iban Summit II tahun 2023 di Tapang Sambas menegaskan identitas mereka dalam keluarga Dayak yang lebih luas. Implikasi modernnya termasuk pemahaman tentang ketahanan budaya di tengah konflik tanah, dengan panggilan untuk monograf etnografi lebih lanjut.


Artikel lain menyoroti interaksi historis dengan migran Tionghoa di Pemangkat, Kalimantan Barat. Bukti sejarah mencakup artefak Dinasti Tang (618–907 M) seperti porselen, tembikar, dan alat logam di Pemangkat dan Singkawang, menunjukkan hubungan perdagangan awal sejak abad ke-7. Migrasi besar Hakka mulai 1740 meninggalkan penanda seperti Monumen Pendaratan Pertama, pecinan, toapekong, dan gapura. Struktur sosial zongting—asosiasi sukarela berbasis nilai Hakka—mengatur komunitas secara demokratis, terinspirasi novel Shuihu Zhuan. Integrasi dengan Dayak melalui pernikahan dan istilah seperti "sobat" atau "Lo-a-kia" membentuk aliansi ekonomi-politik, terutama di pertambangan emas, menciptakan narasi harmoni daripada konflik.


Penelitian tentang Dayak Krio di tepian sungai Ketapang menambahkan lapisan dinamika sosial. Komunitas ini di Kecamatan Sandai dan Hulu Sungai, dengan pusat di desa Sepanggang, Mariangin, dan Sengkuang—disebut "trisula budaya"—mempertahankan adat seperti ritual Naik Dango, Balalaat, Begawai, dan Nyobeng. Namun, konversi agama melalui pernikahan dengan Melayu, urbanisasi, dan ekspansi sawit mengancam identitas. Istilah "Nyaga" kini peyoratif bagi yang meninggalkan adat, sementara upaya pelestarian meliputi dokumentasi folklore, festival, dan ekoturisme untuk memperkuat hak adat.


Identitas Budaya dan Agama Dayak


Identitas Dayak telah berevolusi dari stereotip kolonial menjadi narasi yang direklaim sendiri, seperti dibahas dalam artikel tentang perspektif penulis asing dan lokal. Penulis asing awal seperti Carl Bock (The Headhunters of Borneo, 1885) dan Charles C. Miller (Black Borneo, 1942) menggambarkan Dayak sebagai barbar karena praktik ngayau (berburu kepala), mengabaikan konteks ritual sebagai simbol kehormatan, resolusi konflik, dan keseimbangan sosial. Buku seperti *Headhunting and the Social Imagination (1996) oleh Janet Hoskins mereframnya sebagai praktik tertanam dalam sistem sosial-religius, sementara Man, Myth & Magic (1997) menyoroti mitologi dan kosmologi Dayak.


Prof. Sosilawaty Investigates the Biodiversity of Traditional Medicinal Plants in the Hutan Pendidikan Hampangen


Penulis lokal seperti Yekti Manuati (Identitas Dayak, 2004) mengkritik komodifikasi melalui pariwisata, dan F.X. Lonsen & L.C. Sareb (Hukum Adat Dayak, 2002) menekankan hukum adat sebagai pengatur moral dan sosial. Amil Jaya (The Headhunter: Ngayau, 2009) dan Richard Lloyd Parry (In The Time of Madness, 2005) menjelaskan peran simbolis ngayau dan konteks konflik etnis 1990-an akibat enkroachment tanah. Pendekatan hermeneutik Gadamer mendorong dialogis, dengan penelitian seperti di Ulong Bayeh oleh Masri Sareb Putra dan Dr. Yansen TP yang memberdayakan komunitas.


Inti identitas adalah Kaharingan, agama asli Dayak yang dikenal sebagai helu atau agama dusun. Ia menekankan harmoni dengan alam, hubungan dengan Sang Pencipta Mahatinggi, roh leluhur, dan kosmos. Ritual seperti tiwah (mengantar roh ke Lewu Tatau dengan tarian balean dadas), manajah antang (meminta petunjuk), dan larangan menebang pohon tanpa ritual mencerminkan etika ekologis. Terintegrasi dengan tujuh unsur kebudayaan universal (Kluckhohn & Kroeber, 1952), Kaharingan mengatur organisasi sosial (peran balian), mata pencaharian, seni (rumah betang), dan bahasa lisan. Diklasifikasikan sebagai bagian Hindu sejak 1980 untuk legalitas, ia tetap autentik, berbeda dari Hindu dalam kosmologi. Tantangan seperti modernisasi dan konversi agama mengancamnya, tapi ia bertahan sebagai simbol ketahanan di Kalimantan Tengah.


Kebijaksanaan Lingkungan dan Praktik Tradisional


Kebijaksanaan lokal Dayak dalam mengelola lingkungan tercermin dalam pertanian ladang berpindah, dipraktikkan lebih dari 10.000 tahun dengan siklus rotasi 7–15 tahun untuk regenerasi hutan, biodiversitas, dan pemulihan tanah. Multicropping seperti padi gunung, labu, kacang, tebu, dan tanaman obat dipandu ritual kosmologi, menghormati hutan sebagai ruang sakral. Api digunakan terkendali dengan firebreak dan pengetahuan musim, bertentangan dengan tuduhan deforestasi. Peneliti seperti Dove (1985) membuktikan keberlanjutannya, sementara deforestasi sebenarnya dari sawit, tambang, dan infrastruktur—Global Forest Watch (2021) catat 27,7 juta hektar hilang di Indonesia 2001–2020.

The Historical Significance of the Crocodile Monument in Long Mutan


Dampak perkebunan sawit menciptakan dilema: peluang ekonomi bagi pemuda, tapi kehilangan tanah ulayat melalui FPIC yang diabaikan, kompensasi rendah, dan marginalisasi budaya. Deforestasi menyebabkan emisi karbon, krisis asap, polusi sungai, dan hilang habitat satwa seperti orangutan. Penelitian kualitatif di Kalimantan Barat dan Tengah menyerukan pengakuan hak adat, kemitraan perusahaan, dan standar RSPO. Inisiatif hutan desa di Kalimantan Timur menjadi model, tapi konflik berlanjut atas UU Cipta Kerja yang melemahkan perlindungan.


Penelitian Prof. Sosilawaty di Hutan Pendidikan Hampangen menemukan biodiversitas tanaman obat: sambiloto untuk demam dan imun, pasak bumi untuk stamina dan infeksi, serta spesies untuk diabetes, hipertensi, dan pencernaan. Pendekatan ini integrasikan pengetahuan Dayak dengan medis modern, promosikan konservasi dan pemberdayaan. Nilai ekonomi tanah adat Taman Sunsong, dihitung Dr. Masiun sebesar Rp 1.155.750.223.212, mencakup sumber makanan, obat, bahan bangunan, dan ritual, dikelola berkelanjutan selama berabad-abad. Ancaman deforestasi menekankan pengakuan pemerintah untuk keseimbangan pembangunan dan konservasi.


Penelitian dan Inovasi di DRC


DRC mendorong inovasi melalui penelitian lapangan, seperti tim fakultas Institut Teknologi Keling Kumang yang meneliti madu organik di Kabupaten Sanggau. Dipimpin Kristianus Heri Hartanto, Erwin, dan Masri Sareb Putra, studi ini eksplorasi hutan tropis dengan pohon tapang sebagai sarang lebah alami, menghasilkan madu kaya antioksidan. Praktik panen berkelanjutan oleh peternak lokal, termasuk memanjat pohon 40 meter tanpa merusak sarang, integrasikan pengetahuan tradisional dengan konservasi modern. Temuan: madu bernilai Rp 150.000/kg, dukung biodiversitas melalui polinasi, dan berpotensi pasar global. Rekomendasi: akses pasar, publikasi di jurnal Sinta, dan skalabilitas untuk kesejahteraan masyarakat.


Stabilitas Populus (The Resilience) of the Dayak Population as Evidence of Indigenous Continuity and Civilizational Sustainability in Borneo

Artikel tentang etika mengutip sumber dalam penulisan ilmiah menekankan pencegahan plagiat melalui transparansi, konsistensi gaya (Harvard, Chicago, MLA), kepatuhan hak cipta (UU No. 19/2002), teknologi seperti Turnitin, dan pendidikan etika. Contoh kasus dosen di Yogyakarta yang dihukum karena jiplak menunjukkan konsekuensi, promosikan integritas akademik di DRC.


Inovasi ini hubungkan tradisi dengan sains, seperti potensi medis tanaman obat atau ekonomi madu, buka jalan kemajuan berkelanjutan sambil hormati warisan Dayak.


Tantangan Kontemporer dan Masa Depan Warisan Dayak


Tantangan utama warisan Dayak termasuk modernisasi yang mengancam identitas, seperti konversi agama dan urbanisasi pada Dayak Krio, kriminalisasi pertanian ladang, dan deforestasi dari industri. Perkebunan sawit marginalisasi komunitas, sementara Kaharingan berjuang pengakuan sebagai agama otonom, bukan cabang Hindu. Migrasi historis ajarkan adaptasi, tapi konflik tanah dan epistemik injustice delegitimasi pengetahuan lokal.


Unveiling the Mystery of Dayak Ancestry: A Terra Incognita


Masa depan cerah melalui pendidikan budaya, ekoturisme, dan penelitian inovatif. DRC sebagai pusat akan terus dokumentasikan warisan, advokasi hak adat, dan kolaborasi untuk harmoni tradisi-modern. Dengan pengakuan tanah adat dan integrasi kebijakan, Dayak bisa berkontribusi global, jaga biodiversitas dan keadilan sosial-lingkungan.


Posting Komentar

Post a Comment (0)

Lebih baru Lebih lama